Young couple holding hands with sun-flare.

 

Pepatah mengatakan bahwa pengalaman itu adalah sebuah pembelajaran. Disinilah saya mendapat pengalaman dari sebuah kejadian yang hampir membuat hidup saya tanpa arti dan putus asa. Sampai pada saat yang tiba bahwa yang telah membuat hidup saya putus asa dan tanpa arti itu hanyalah sebuah hal yang sangat tidak berharga dan tidak direstui oleh Tuhan.

Saya punya pengalaman tentang suka dan cinta dalam pacaran yang menjadi duka dalam hati. Saya pernah berpacaran satu kali dan membuat saya sakit hati karena ditinggal oleh si doi. Saya pernah sangat dekat dengan seorang wanita yang akhirnya semua sakit hati hanya karena salah paham sehingga mempermainkan perasaan sendiri. Menyalahkan gunakan arti kata cinta dan suka sehingga membuat hati terluka.

Tulisan ini semoga bermanfaat terutama untuk kalian yang sedang patah hati dan ditinggal pacar (ditikung, diselingkuhi,ditinggal secara tiba-tiba dan lain-lain) dan dapat menyadarkan semua orang yang membaca ini.

Suka merupakan hal yang wajar. Cinta adalah nilai kodrat yang pasti dimiliki manusia, karena cinta merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Akan tetapi tanpa disadari anugerah yang telah Tuhan berikan tersebut disalah artikan dan disalahgunakan oleh manusia. Rasa suka dan cinta terhadap sesama manusia seakan-akan telah berubah menjadi hawa nafsu belaka yang hanya menggunakan hasrat hewani untuk melakukan suatu hubungan yang terlarang. Bahkan sesuatu yang terlarang tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan sudah menjadi hal biasa di mata orang-orang, terutama anak muda. Sebut saja sesuatu yang terlarang tersebut adalah Pacaran. Kenapa saya anggap terlarang?

Pertama bahwa pacaran itu adalah sesuatu yang dilarang atau diharamkan dalam kepercayaan saya yaitu islam. Hal itu tertulis jelas dalam Firman Allah SWT pada Q.S Al Isra’ [17] : 32) . Dalam surat tersebut jelas bahwa kita dilarang untuk berbuat zina maupun mendekati zina, yang dimaksud dengan mendekati zina itu sendiri salah satunya adalah pacaran. Selain pacaran banyak juga hal lain, tetapi saya fokuskan saja pada pacaran.

Yang kedua karena pacaran itu tidak memiliki manfaat sama sekali. Bahkan amat merugikan bagi kita semua. Sekarang kalau aku bertanya pada kalian, apa tujuan kalian pacaran? Pasti ada yang menjawab berbagai macam seperti bersenang-senang, gengsi, ajang untuk mencari jodoh, memotivasi dan lain sebagainya. Lalu, apakah kita hidup di dunia ini hanyalah untuk bersenang-bersenang atau gengsi dengan teman yang lain belaka? Apakah kita tidak dapat menumbuhkan motivasi selain pacaran.Bagi saya, kita hidup di dunia agar kita mampu memberikan manfaat bagi manusia lain, memberi perubahan pada lingkungan sekitar, saling tolong-menolong, serta mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan, bukan malah melanggar apa yang telah Tuhan larang, termasuk pacaran. Banyak hal yang lebih penting dibanding dengan pacaran. Kalau kita hanya memikirkan pacaran saja, jiwa dan pikiran kita akan teracuni oleh pemikiran yang mesum. Itu pasti, dan tidak mungkin tidak. Karena pacaran yang didahulukan adalah nafsu dan hasrat. Jangan anggap bahwa sebuah cinta itu dapat kita salurkan melalui pacaran.

Ketiga, pacaran membuat lupa terhadap orang-orang di sekitar kita, termasuk orangtua. Saya pernah membaca sebuah tulisan yang bertuliskan sebuah pertanyaan, “apa itu pacar?”. Lalu di bawahnya tertuliskan jawaban, “pacar adalah satu orang di dekatmu yang membuatmu lupa dengan seribu orang disekitarmu”. Definisi itu menurut saya benar adanya. Karena saya berkaca dari pengalaman yang saya dapatkan dan beberapa teman-teman saya yang pernah pacaran. Saat mengobrol maupun bermain dengan teman-teman dan tiba-tiba si pacar datang. Pasti pusat perhatiannya bakal tertuju sama si pacar lalu berhenti dan sudah tidak menghiraukan teman-teman. Banyak juga dari kita yang lebih mengutamakan ketemu dengan pacar maupun gebetan daripada teman sendiri. Pacarlah yang diutamakan. Senang atau tidak itulah adanya dan tidak perlu untuk mengelak dan membohongi diri sendiri.

Banyak dari kita yang lebih mementingkan kepentingkan pacar daripada orang lain. Termasuk kepentingan orang tua yang kita nomor duakan. Kita mudah sekali untuk mengatakan sayang, cinta dan apalah kepada pacar, namun kita kesulitan untuk bilang sayang kepada orangtua kita. Mencium pacar yang belum tentu jodohnya merupakan hal yang mudah dilakukan, tetapi untuk mencium tangan orangtua saja susah. Marah dengan orangtua terlalu mudah untuk kalian lakukan, tetapi marah kepada pacar saja sungkan. Kita bukan marah malah mengalah kepada pacar. Mengantar pacar ke mana saja mau, tetapi mengantarkan ibu pergi berbelanja saja tidak mau. Mengantarkan ayah yang sedang sakit saja angin-anginan jika mau berangkat. Giliran pacar yang sakit saja bingungnya minta ampun. Bingung mau ngantar, nelpon dokterlah dan sebagainya. Pacaran bukanlah jalan untuk menemukan seorang jodoh, pacaran hanyalah hasrat seseorang untuk melampiaskan nafsu mereka dan hasrat hewani yang dimiliki.

Bagi para wanita jangan pernah berharap kalian punya harga diri saat pacaran. Karena kalian akan menjadi bahan pegangan oleh pacar kalian dimanapun pegangan itu berada. Baik di tangan, pundak maupun bagian yang lebih berharga yang kalian miliki. Harga diri kalian akan habis selama kalian pacaran. Bahkan harga diri pelacur mungkin lebih berharga, karena seorang pelacur akan dibayar saat menawarkan diri mereka kepada lelaki hidung belang. Mereka tidak akan membiarkan diri mereka disentuh oleh lelaki sebelum ada perjanjian pembayaran kepada pelacur. Sedangkan kalian para wanita yang gemar pacaran merelakan diri kalian untuk disentuh oleh pacar kalian tanpa bayaran sedikitpun. Bahkan sekarang banyak wanita yang rela melepas keperawanannya hanya untuk meladeni nafsu birahi sang pacar. Jadi jangan marah jika harga diri seorang wanita yang pacaran lebih rendah daripada seorang pelacur.

Jika saya boeh menyarankan, jangan buat komitmen di dalam pacaran, karena komitmen dalam pacaran hanya akan menjadi sampah yang membusuk saat kalian putus. Saya tidak balas dendam terhadap pengalaman saya tentang pacaran, tetapi saya mendapat sebuah nilai dan etika dalam sebuah ilmu kehidupan yang akan membawa saya menjadi manusia lebih baik lagi. Jika kita pacaran dan putus pasti semua sakit hati. Berapa banyak manusia yang bunuh diri hanya karena sakit hati? Berapa orangtua tua yang kecewa ketika melihat anak perempuan menikah setelah di hamili oleh laki-laki yang belum resmi menjadi suaminya? Berapa banyak janin dalam kandungan mati sebelum lahir dan berapa bayi yang terlantar setelah dilahirkan hanya karena hubungan gelap yang dilakukan kedua orang tua mereka? Berapa banyak wanita yang menjadi janda, bayi yang menjadi yatim hanya karena di tinggal oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab? Berapa banyak masa depan yang hancur hanya karena pacaran? Itu semua akibat dari pacaran. Jadi silahkan disimpulkan sendiri apakah semua yang saya tulis ini benar atau tidak? Jawab dengan jujur dan bukalah hati nurani masing-masing. Masih banyak hal, bahkan sangat banyak hal yang lebih memberi kita manfaat daripada pacaran.

Sekarang marilah kita mulai memikirkan masa depan kita. Menyusun rencana indah kita agar cita-cita kita dapat terkabul dan tujuan yang kita inginkan dapat kita raih dan kebahagiaan juga dapat kita dapat tentu tanpa pacaran. Karena masih banyak orang disekitar kita yang membutuhkan rasa cinta dan sayang dari kita daripada pacar. Buktikan kepada mereka bahwa kalian bisa bahagia hidup tanpa pacaran.

Jadi, seberapa pentingkah pacaran itu? Silahkan masing-masing dari kalian menyimpulkannya sendiri.

 

Doni Prasetya Wibowo

LEAVE A REPLY