Lomba Ayo Menulis

Setitik Asa Terakhir – Zona Asha Tigara

Di bawah jendela itu, seorang wanita terlihat duduk menyendiri. Matanya menerawang jauh pada butiran hujan yang mengalir di tingkap kaca. Rupanya sebentar lagi hujan akan berhenti. Raut wajahnya yang semula muram kini berganti dengan segurat senyuman.

Meski tidak lagi muda dan telah melahirkan dua orang anak, Dinda masih terlihat menawan. Perutnya yang kembali membesar karena tengah mengandung anak ketiga sama sekali tak mengurangi paras cantiknya. Namun sayang ia tidak memiliki hati yang lembut dan sikap yang hangat layaknya seorang ibu pada umumnya.

Jika Dinda tidak mudah tersulut api cemburu, barangkali suaminya sekarang telah sukses. Menjadi seorang kepala cabang di sebuah perusahaan asuransi yang ada di Yogyakarta. Keluarga mereka pun tidak akan terdampar di rumah kecil seperti ini.

Sebenarnya ia lelah harus mengandung lagi. Apalagi di tengah kondisi ekonomi mereka yang tidak sebaik dahulu. Tetapi karena hasil USG satu bulan lalu, pikirannya sedikit berubah. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan anak yang lahir adalah laki-laki. Setelah dua kali melahirkan anak perempuan, akhirnya harapannya dapat terwujud. Seorang bayi laki-laki sebentar lagi akan berada dalam gendongannya.

Kini Dinda bisa membantah pemikiran kolot Susi, tetangganya. Masih teringat jelas dalam memorinya tentang apa yang pernah dilontarkan oleh Susi. Kala itu, perbincangan sore yang awalnya ringan berubah seketika menjadi perdebatan yang sedikit alot.

“Wah, tidak menyangka ya Ibu sekarang hamil lagi. Semoga nanti anak yang lahir bisa secantik ibunya ya,” ujar Susi memecah keheningan.

“Saya akan lebih senang jika anak yang lahir bisa segagah ayahnya,” kata Dinda seraya mengelus perutnya.

“Sepertinya harapan itu sulit terwujud, Bu.”

“Loh memangnya kenapa?” Dinda sedikit meninggikan nada suaranya.

“Kalau kata orang tua zaman dulu, jika melahirkan anak perempuan dua kali berturut-turut.. pasti anak ketiga yang lahir adalah perempuan juga.”

“Ah, itu sih cuma mitos saja. Saya tidak percaya mitos yang aneh-aneh begitu.”

“Tapi dulu tetangga saya yang ada di desa juga pernah mengalaminya loh Bu.. Jangan-jangan itu bukan sekedar mitos.”

“Sudahlah, kalaupun pernah terjadi.. paling sekedar kebetulan saja. Usia kehamilan saya ini masih muda. Dokter saja belum bisa menentukan secara pasti jenis kelamin dari anak yang saya kandung. Itu artinya Ibu tidak bisa asal meramalkan apakah anak yang saya lahirkan adalah laki-laki atau perempuan.”

“Saya kan hanya ingin cerita saja. Tidak ada maksud apa-apa.”

Begitulah kenangan yang diingat oleh Dinda. Mengingatnya saja sudah membuat dia amat geram. Kejadiannya memang telah lampau, beberapa minggu yang lalu. Tetapi hari-hari itu terasa begitu dekat seperti baru saja terjadi kemarin. Ketika Dinda semakin terhanyut dalam lamunannya, tiba-tiba saja terdengar suara pintu depan rumahnya dibuka.

Dinda tidak beranjak dari tempaatnya berada. Ia menolehkan kepalanya sekedar memastikan bahwa yang membuka pintu itu adalah suaminya. Begitu tahu bahwa dugaannya tepat, Dinda kembali membenarkan posisi duduknya dan seolah bersikap acuh. Tak dipikirkan kenyataan bahwa suaminya baru pulang dari pasar. Bekerja sebagai supir angkut barang. Tidak ada niat sedikitpun untuk mengambilkan handuk atau pakaian kering karena tubuh suaminya basah terrguyur hujan. Bangun saja malas, apalagi harus mengurus suami, itulah yang ada di pikiran Dinda.

Dua belas tahun mempersunting Dinda sudah cukup bagi Aryo untuk memahami watak istrinya yang keras. Bersabar, cuma itu kunci untuk menghadapi istrinya. Sebab bila terbawa amarah hanya akan menambah perkara.

Perlahan Aryo berjalan mendekati istrinya yang tengah duduk di depan jendela. Tangan kanannya membawa sebuah kantong plastik hitam yang cukup besar.

“Anak-anak lagi ada di mana? Sepi sekali,” tanya Aryo.

“Mungkin tidur di kamar. Dari tadi aku belum mendengar suara mereka.”

“Ya sudah, bangunkan dulu Tika dan Nia. Aku belikan martabak manis untuk kamu dan anak-anak.”

“Kenapa beli martabak manis sih? Seharusnya kamu beli makanan yang cocok untuk lauk nanti malam. Bukannya makanan yang tidak mengenyangkan seperti ini.”

“Aku kira kamu akan menyukainya. Masih hangat, pasti enak dimakan setelah hujan. Lagi pula bukannya kamu sudah masak nasi dan sayur sop untuk makan malam?”

“Kalau cuma sayuran mana cukup? Aku sedang hamil, butuh makanan bergizi yang banyak proteinnya. Pokoknya aku mau ikan bakar, Mas.”

“Terus martabaknya bagaimana?”

“Ya, buat kamu sama anak-anak saja.”

“Beli ikan bakarnya besok saja bagaimana? Uang hasil bayaran tadi sudah aku gunakan untuk beli martabak. Uangnya hanya tersisa sedikit. Paling bisanya untuk beli ikan bakar satu. Kamu mengertikan kalau sebagian uang penghasilan harus ditabung untuk biaya persalinan kelak,” Aryo berusaha membujuk istrinya.

“Iya aku tahu. Aku juga paham kalau menabung itu penting. Makannya beli ikannya satu saja.”

“Anak-anak bagaimana? Kasihan kan kalau mereka tidak kebagian ikannya.”

“Untuk itulah kamu beli ikannya sekarang, sebelum mereka bangun. Nanti aku akan makan di dapur secara diam-diam supaya mereka tidak tahu. Ini bukan untuk aku saja, ini demi calon anak kita juga. Mereka berdua akan jadi kakak, jadi harus mulai mengalah dengan adiknya.”

Aryo terdiam. Sia-sia bila tetap meneruskan perdebatan panjang ini. Bungkusan plastik hitam yang dari tadi dipegangnya erat, sekarang ia letakkan di atas meja. Kakinya melangkah keluar rumah, seiring dengan matahari yang mulai tenggelam. Satu yang ada dipikirannya, ia harus cepat pulang sebelum hari bertambah gelap dan anak-anaknya terbangun dari tidur yang lelap. Terkadang Aryo bingung mengapa istrinya bisa seegois itu, bahkan kepada anaknya sendiri. Ia pribadi tidak akan mungkin bisa makan jika istri dan anaknya tidak makan.

***

Walau dengan berat hati, Aryo akhirnya berhasil memenuhi permintaan sang istri. Untunglah Dinda bisa menghabiskan ikan bakar yang dibelinya tepat sebelum Tika dan Nia terbangun.

“Ayah sudah pulang ya.. tadi kita ketiduran karena lama menunggu hujan gak berhenti-berhenti,” ucap Tika sambil menggandeng adiknya keluar dari kamar.

Nia menggenggam tangan kakanya dengan erat. Sesekali matanya mengerjap. Tangan mungilnya menunjuk sebuah bungkusan hitam yang ada di atas meja.

“Itu apa?” kata Nia singkat.

“Oh ini martabak manis. Kamu mau? Nia walau masih kecil tapi peka ya kalau ada makanan. Ayo kesini, makan bareng Kak Tika juga ya..” Aryo melambaikan tangannya.

“Mau..” Nia berlari kecil. Melepaskan genggaman erat Kakaknya.

Tika dan Nia menyantap martabak manis itu dengan lahap. Meski tak lagi hangat, namun mereka tetap menikmatinya.

“Ayah tidak ikut makan?” kata Nia.

“Nanti saja kalau kalian sudah kenyang dan masih ada martabak yang tersisa barulah Ayah akan makan.”

“Kalau Ibu gak ikutan makan?” sekarang Tika yang bertanya.

“Ibu sudah kenyang,” jawab Dinda dengan ketus. Ia lalu bangkit dari tempat duduk dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Seandainya ia bisa mengulang waktu dan kembali ke masa lalu, Aryo akan berusaha untuk menghindari pertemuannya dengan Dinda. Ia tak akan menjabat tangannya dan mengajaknya berkenalan. Sehingga mungkin benih-benih cinta saat masa muda yang menyatukan mereka dalam ikatan takdir tidak akan pernah ada. Tetapi Aryo adalah manusia biasa yang tidak akan bisa mengulang waktu.

Aryo tak pernah keberatan akan segala pilu yang dialaminya saat membina bahtera rumah tangga dengan Dinda. Karena itu adalah bagian dari tanggung jawab seorang pria. Namun yang menjadi sesalnya adalah karena Dinda tidak bisa memberikan kasih sayang yang tulus kepada dua buah hatinya. Mungkinkah hatinya tertutup hanya karena Tika dan Nia terlahir sebagai anak perempuan? Sebegitu terobsesinya kah Dinda untuk memiliki anak laki-laki?

Semakin besar kandungan Dinda, hati Aryo semakin gusar. Ia khawatir jika takdir Tuhan berkata lain. Bagaimana bila anak yang dikandung Dinda pada akhirnya adalah perempuan? Itulah yang membuat Aryo takut memeriksakan kandungan istrinya lagi. Jangan-jangan kali ini dokter berkata sebaliknya saat melihat hasil USG terbaru.

Ah, sudahlah gusar pun tidak ada gunanya. Hal yang menjadi prioritas utama sekarang adalah mengumpulkan biaya persalinan. Terlebih biaya persalinan sekarang tidak murah, terus melambung tinggi seperti harga BBM yang naik tapi tak pernah turun.

Demi menambah penghasilan, Aryo tidak lagi menggunakan jasa kurir angkut barang. Jadi kalau ada muatan di pasar, ia akan membongkar muatannya sendiri lalu meletakkannya ke dalam pasar. Memang jauh lebih letih karena harus bongkar muatan sendiri. Tapi tidak apa selama dia masih kuat. Untung saja mobil pick up yang jadi modalnya bekerja sudah lunas sejak setahun lalu. Jika belum, ia pasti tambah pusing. Walaupun bekas, tetapi kondisinya yang layak jalan sudah cukup bagi Aryo.

Karena sering mengangkut barang yang berat, pinggang Aryo sering sakit. Terkadang sempat terpikir untuk sejenak istirahat. Tapi ia urungkan sebab jika tidak berangkat bekerja itu artinya tidak dapat penghasilan. Sungguh tidak diduga justru keputusan inilah yang akhirnya membuat kaki Aryo pincang. Kaki kirinya lemas sebelah. Awalnya ia pikir hanya keseleo biasa. Maka tidak pernah terpikirkan untuk membawa ke dokter atau sekedar diurut ke tukang pijat. Sayang uangnya, lebih baik untuk tambahan biaya bersalin sang istri.

Malang nian nasib Aryo, bukannya menghibur dan memberikan semangat, Dinda justru membentaknya. Dinda menyalahkan keputusan ceroboh suaminya. Kalau sudah begini semua jadi repot. Kaki yang sudah pincang tak mungkin bisa kembali normal, demikianlah Dinda sering berkata.

***

Hari berlalu begitu cepat, kini genap 8 bulan usia kandungan sang istri. Mau tidak mau Aryo harus memeriksakan kandungan istrinya ke dokter. Semoga hasil USG tidak berubah. Begitulah do’a sederhana Aryo kepada sang Pencipta.

“Dari hasil USG ini, nampaknya posisi bayi sungsang. Kakinya berada di bawah. Kelahiran normal tidak mungkin dilakukan. Di sini terlihat juga bahwa anak Bapak dan Ibu ternyata adalah perempuan. Selamat ya. Bapak sebaiknya mempersiapkan untuk biaya operasi caesar.”

Ucapan dokter seketika berubah bagaikan kilatan petir bagi Dinda. Pupus sudah harapannya menimang anak laki-laki. Hatinya perih laksana tersayat sembilu.

“Tidak mungkin. Coba periksa lagi dokter. Beberapa bulan yang lalu, dokter bilang anak saya laki-laki. Kenapa sekarang justru perempuan?”

“Pada usia awal kehamilan memang sulit memprediksi dengan tepat, Bu. Jadi ini mungkin saja terjadi,” jawab dokter menerangkan.

“Dua anak saya sebelumnya tidak pernah sungsang dan saya selalu lahir secara normal.”

“Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan bayi sungsang. Misalkan karena Ibu terlalu sering duduk atau air ketuban yang terlalu sedikit.”

“Apa tidak mungkin saya melahirkan normal?”

“Bisa saja bila posisi bayi sudah berubah dan kepala bayi ada dibawah. Tapi untuk berjaga-jaga persiapkan diri Ibu untuk melangsungkan operasi. Sering-seringlah berolah raga ringan dan sujud secara rutin untuk membantu bayi berubah posisi. Semoga dengan begitu bisa merubah keadaan.”

Untuk sesaat Dinda terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Pipinya basah dengan derai air mata. Aryo yang duduk tepat disampingnya mengusap punggung Dinda dengan lembut. Berharap bisa sedikit menenangkannya. Tetapi Dinda justru menangkis tangan suaminya. Lalu pergi meninggalkan ruang perawatan tanpa sepatah kata pun.

Aryo pamit undur diri. Dokter tak banyak berkata. Sebatas menunjukkan senyuman dan mengutarakan pesan agar selalu bersabar dalam menghadapi istri yang sedang mengandung.

Sesampainya di rumah, Dinda membanting pintu dengan keras. Syukurlah Tika dan Nia tidak ada di rumah karena sedang bersekolah. Sehingga tidak perlu menyaksikan apa yang akan terjadi.

“Seharusnya aku tidak usah mengandung lagi jika anak ini tetap saja perempuan. Sudah sungsang, perempuan lagi. Lengkap sudah penderitaan aku ini.”

“Tenanglah, jangan kamu bawa stress. Ini bisa berakibat buruk bagi sang bayi,” bujuk Aryo.

“Stress.. bagaimana aku tidak streess bila mana kebahagianku mendapatkan anak laki-laki ternyata hanya sebatas harapan palsu dari seorang dokter. Kamu tahu kan berapa mahalnya biaya operasi caesar?”

“Kamu tidak perlu memikirkan biayanya. Aku akan usahakan segalanya demi anak kita. Anak perempuan atau laki-laki sama saja. Semua adalah karunia Tuhan. Kita beruntung dipercaya oleh sang Kuasa untuk merawat anak. Cobalah bayangkan di luar sana banyak pasangan yang sudah puluhan tahun menikah tapi tidak juga dikaruniai keturunan.”

“Aku rasanya tidak lagi menginginkan anak ini untuk lahir.”

“Jangan berbicara seperti itu. Kamu ingat dulu pernah mengancam menggugurkan Tika saat masih dikandungan karena khawatir aku selingkuh di kantor? Saat itu aku rela melepaskan pekerjaanku demi agar kamu tetap mempertahankan Tika dalam kandungan. Lalu sekarang kamu ingin melakukan hal yang sama pada bayi yang sudah ada di rahimmu selama 8 bulan? Kamu tidak bisa begitu. Bayi itu tidak berdosa. Lahir sebagai perempuan adalah karunia bukan petaka yang harus di hindari.”

“Tapi aku malu, aku telah dengan bangganya mengatakan pada Susi tetangga kita bahwa anak yang ku kandung adalah laki-laki.”

“Untuk apa kamu malu? Tidak ada manusia di dunia ini yang sanggup menentang takdir Tuhan. Percayalah kepadaku bahwa semua akan berakhir indah.”

***

Setiap hari usai bekerja, Aryo selalu menandai kalender dengan lingkaran merah. Sebagai penanda hitungan mundur menyambut kelahiran anak ketiganya. Kalau perkirannya tepat, besok adalah hari persalinan sang istri. Untuk itu hari ini Aryo giat bekerja karena ini adalah kesempatan terakhir untuk mengumpulkan uang.

Muatan cukup banyak, hampir memenuhi mobil pick up nya. Seorang pengepul memintanya untuk mengangkut 2 kwintal tomat segar ke pasar. Saat perjalanan Aryo sangat bersemangat memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang. Ia ingin cepat pulang agar bisa mempersiapkan persalinan istrinya besok.

Sangkin semangatnya, Aryo sampai kehilangan fokus dalam mengemudi. Dia tidak melihat bahwa ada sebuah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti di depannya. Sementara di kanan dan kiri ada pedagang sayur yang menjajakan barang di pinggir jalan. Pikirannya kalut. Jika banting strir ke kanan atau ke kiri nyawa seseorang bisa saja melayang. Maka ia memutuskan untuk menginjak pedal rem sekuat tenaga. Sayang rem mobilnya tidak cukup akurat untuk berhenti sebelum menabrak mobil yang berada di depan.

Bagian belakang mobil itu rusak, begitu pula dengan mobil pick upnya. Bagian depannya penyok dan penuh gores sana sini. Beruntung tidak ada korban jiwa. Tetapi tomat yang ada di mobilnya menggelinding ke badan jalan. Aspal seketika berwarna merah karena tomat-tomat yang hancur terlindas kendaraan lain.

Hendak mencari tambahan uang, justru sial tak dapat dihindari. Uang tabungan yang dipersiapkan untuk biaya caesar istrinya sekarang ludes karena harus membayar kerusakan mobil serta ganti rugi 2 kwintal tomat yang dibawanya. Baik pemilik mobil atau sang pengepul tidak mau ambil pusing tentang keadaan Aryo. Mereka ingin dibayar secepatnya, takut kalau Aryo akan kabur tanpa membayar.

Bimbang, entah apa yang akan dikatakan Aryo kepada Dinda. Ia tidak mungkin berkata sejujurnya. Maka terpaksa ia pun merancang sebuah skenario kebohongan. Aryo telah merancang dengan apik apa yang akan disampaikan kepada istrinya. Ia yakin kebohongannya tak bercelah.

Akan tetapi saat membuka pintu rumah, Aryo tidak mendapati bayang-bayang istrinya. Yang terlihat saat pertama kali membuka pintu adalah gambaran putrinya Tika yang berlari menghampirinya. Matanya bengkak seolah habis menangis berjam-jam.

“Ayah.. Ii..bu,” suara Tika terbata-bata.

“Ibu kenapa Tika? Tenang dan jelaskan kepada Ayah perlahan-lahan.”

“Tadi jam 8 pagi, perut Ibu sakit. Terus aku panggil tante Susi. Katanya air ketuban Ibu pecah dan harus cepat dibawa ke rumah sakit. Nia ikut ke rumah sakit sama tante Susi, sedangkan aku disuruh menunggu di sini sampai Ayah pulang.”

Sungguh kejadian seperti ini tidak terlintas dalam skenario yang tadi disiapkan oleh Aryo. Miris hatinya, Tika yang masih duduk di kelas 5 SD harus menunggunya pulang selama berjam-jam untuk memberikan kabar yang amat menyedihkan. Andaikan hari ini ia tidak bekerja mengangkut tomat ke pasar. Tentu ia akan berada di rumah dalam waktu yang tepat dan kecelakaan tadi pun tak akan pernah terjadi.

“Tika, tunggu sebentar di sini. Ayah mau ambil uang untuk biaya rumah sakit Ibu. Nanti Ayah akan kembali secepatnya.” Aryo memeluk putrinya.

Sepanjang perjalanan Aryo berpikir keras bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat dalam waktu beberapa jam. Terlintaslah dalam benaknya untuk menjual mobil pick up satu-sarunya ini. Tidak tahulah akan laku dengan harga berapa. Apalagi setelah terlibat kecelakaan. Sudah mobil bekas, surat tak lengkap, penuh goresan sana sini. Setidaknya lumayan untuk uang jaminan di rumah sakit. Kekurangannya akan ia pikir belakangan.

Butuh waktu 3 jam lamanya untuk dapat menjual mobil dengan kondisi seperti itu. Harga yang di dapat juga tidak seberapa. Untuk operasi caesar tidak mungkin cukup. Uang segini hanya bisa untuk membiayai persalinan normal.

Setelah mendapatkan uang hasil penjualan mobil, Aryo kembali ke rumah dan menjemput putrinya agar bersiap-siap menuju rumah sakit.

***

Lorong putih dan bau obat medis yang khas entah mengapa membuat dada Aryo sesak. Perasaannya berkecamuk. Ia takut kedatangannya amat terlambat. Seorang perawat mengantarkannya menuju ke ruang melati. Ruangan di mana istrinya di rawat. Peluhnya semakin bercucuran ketika tidak mendapati satupun orang yang berjaga di luar ruangan itu. Ia bertanya dalam hati, di manakah semua orang. Susi tetangganya juga tidak ada. Nia pun tak tak ada.

Aryo mencoba berpikiran positif, mungkin tetangganya itu sedang membantu mengurus administrasi rumah sakit dan barangkali Nia anaknya sedang ada di dalam menunggui sang Ibu.

Ketika sedang berusaha menenangkan pikiran, suara tangisan bayi tiba-tiba terdengar. Mengusir segala resah dan gelisah yang semula dirasakannya. Tapi apakah itu suara bayinya? Mana mungkin? Jangan-jangan itu hanyalah suara bayi dari pasien lainnya.

“Ayah.. ayah.. datang, Bu.” Nia menggoyang-goyangkan lengan Ibunya yang masih berbaring di tempat tidur.

Kaki Aryo bergetar. Terlihat di depannya seorang perawat yang sedang menggendong bayi. Bayi yang baru lahir. Perawat itu berdiri tepat disamping istrinya.

“Apakah itu anak kita?” tanya Aryo sambil melangkah mendekati sang Istri.

“Tentu saja. Memang anak siapa lagi?” kata Dinda.

“Bukankah anak kita seharusnya di operasi caesar? Atau jangan-jangan kamu sudah dioperasi?”

“Aku belum dioperasi. Kalau aku habis dioperasi mana mungkin aku bisa menjawab dengan selancar ini dan bisa menggerakkan badanku dengan leluasa. Aku kan bukan perempuan super. Untuk penjelasannya, tanyakanlah kepada perawat di sampingku ini.”

“Iya Pak, anak Bapak terlahir secara normal. Bahkan tanpa bantuan dokter. Satu jam yang lalu saya beserta rekan saya sesama perawat yang membantu proses persalinan Ibu ini. Semuanya terjadi begitu saja.”

“Bukankah katanya anak saya sungsang? Kenapa bisa terlahir normal?”

“Saat pertama kali tiba posisinya memang masih sungsang dan terlihat sulit melahirkan normal. Karena itu dokter bilang akan menyiapkan operasi caesar saat Bapak sudah tiba di sini. Tetapi beberapa jam kemudian, perut istri Bapak berkontraksi dan sepertinya akan melahirkan. Kebetulan dokter yang bertugas sedang menjalankan operasi lain. Kami sebagai perawat menyiapkan kemungkinan terburuk bahwa istri Bapak harus melahirkan secepatnya. Dan betapa terkejutnya kami saat melihat anak Bapak bisa lahir secara normal dengan posisi kepala dibawah.”

“Terima kasih.. syukurlah semua baik-baik saja.”

“Kalau begitu apa Bapak mau menggendongnya?” tanya sang perawat.

“Tentu saja.”

Perawat itu kemudian pergi meninggalkan ruangan. Betapa bahagianya Aryo mendapati putri kecilnya lahir ke dunia dengan selamat.

“Rupanya putri kita punya semangat hidup yang tinggi. Di saat-saat terakhir ia berjuang untuk lahir ke dunia. Saat lahir, ia tidak menangis kencang. Bahkan sudah diam untuk waktu yang lama. Tetapi ketika kamu datang, tiba-tiba dia menangis kembali. Mungkin dia merasa senang karena Ayahnya telah tiba,” ujar Dinda.

“Sudah ku bilang, jika kamu percaya kepadaku.. semuanya akan berakhir indah. Sejak lahir sudah mandiri dan tangguh. Kelak ketika besar aku yakin dia akan menjadi wanita yang hebat,” Aryo mengusap lembut kepala putrinya.

“Akan kamu beri nama siapa dia?”

“Namanya Asa. Sebuah kata sederhana yang berarti harapan. Aku harap ia lahir sebagai pembawa harapan. Di pundaknyalah kelak akan kugantungkan seluruh harapan terakhir keluarga kita.”

“Tidakkah ekspetasimu terlalu tinggi?”

“Terlalu tinggi? Apa karena dia adalah perempuan? Aku rasa tidak, sebab ia adalah calon wanita hebat yang mentalnya lebih tangguh daripada pria.”

***

Walaupun Dinda tidak menyayangi Asa dengan sepenuh hati, namun Asa tetap berhasil mewujudkan harapan terakhir keluarganya. Ekspetasi Ayahnya tidaklah terlalu tinggi, terbukti ia tumbuh menjadi wanita yang mandiri, tangguh, dan dihormati. Asa mungkin tidak diberkati dengan kasih sayang seorang Ibu, tetapi ia tumbuh kuat dalam lindungan sang Ayah.

Cepamagz.com

 

17 COMMENTS

  1. semangat zona..membaca ini membuat ku sedih,mungkin ada harapan bagi seorang teman dengan keadaan seperti ini dan membuat bangga terhadap orang tua :'(

  2. Keren cerpennya. Penuh makna, kasih sayang orang tua memang nyata adanya. Ibu yang mengajarkan kasih ayah yg mengajarkan tangguh menjalani hidup. Lanjutkan kak. Di tunggu karya selanjutnya

LEAVE A REPLY